Kamis, 18 Juni 2015

Tugas IBD


Sebagai insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Kejuruan yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa “nakal” adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh “kenakalan” lain yang kerap dilakukan siswa. Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.

Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Penulis sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label “nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisilain ukuran “nakal” tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya “nakal” bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos/ tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang “nakal”. 


Menurut saya tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah;

  • Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.
  • Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
  • Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
  • Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya.
  • Siswa yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.
  • Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.
  • Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.
  • Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
Itulah beberapa sebab mengapa siswa berperilaku “nakal” saat di sekolah. Saat kita tahu latar belakang masalah perikau murid kita, tentunya kita akan merasa iba dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai pendidik mulai untuk menghentikan label negatif kepada siswa. 

Beberapa tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal”, adalah:

  1. Berdo’a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.
  2. Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.
  3. Hentikan ucapan atau label “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo’a agar dia menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.
  4. Panggilah dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.
  5. Latilah dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.
  6. Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.
  7.  Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuaha atau membaca Al-Qur'an.
  8. Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”. Rekamlah dengan HP dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.
  9. Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk” konsekuensinya buruk.
  10. Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan mebuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.
Itulah sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah tidak ada siswa yang “nakal”. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan kita, atau mungkin tangan orang lain. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Sumber:

Tugas IBD

Hindari mengonsumsi 4 makanan ini saat sahur

Hindari mengonsumsi 4 makanan ini saat sahur


Puasa datang sebentar lagi. Selain kadar keimanan yang baik, salah satu bekal puasa yang paling penting adalah makanan yang Anda konsumsi selama sahur. Sebab sahur merupakan saat Anda memasukkan nutrisi ke dalam tubuh yang bermanfaat agar Anda selalu berenergi sepanjang hari. Sehingga jika salah memilih makanan, maka justru lemas yang Anda dapatkan saat puasa.

Dilansir dari care2.com, berikut adalah makanan yang sebaiknya tidak Anda konsumsi saat sahur.

Seledri
Percaya atau tidak, seledri bersama dengan makanan yang tinggi air lainnya seperti mentimun dan semangka merupakan diuretik alami yang menyebabkan kandung kemih Anda penuh. Anda pun akan selalu buang air yang bisa menyebabkan Anda dehidrasi saat puasa.

Makanan berlemak atau yang digoreng
Makanan berlemak tinggi atau makanan yang digoreng membutuhkan waktu lama untuk dicerna yang kemudian menyebabkan ketidaknyamanan perut Anda selama puasa.

Daging
Daging membutuhkan waktu cerna yang lebih lama. Jika Anda terlalu banyak makan daging saat sahur, maka tentu saja waktu cernanya akan lebih lama dan membuat perut Anda merasa tidak nyaman selama puasa.

Makanan kemasan
Makanan kemasan yang tinggi akan garam dapat mengikat suplai cairan di dalam tubuh. Anda pun bisa merasa lebih cepat haus saat puasa yang tentu saja membuat Anda tidak nyaman.

Selain makanan di atas, minum soda saat sahur juga tidak disarankan karena kandungan kimia di dalamnya dapat membuat Anda merasa cepat haus saat puasa.

Tugas IBD

Selalu merasa lapar saat puasa?

Ternyata ini 4 alasannya


Selalu merasa lapar saat puasa? Ternyata ini 4 alasannya
Ilustrasi lapar. Shutterstock/Ilya Andriyanov
Lapar di saat puasa merupakan hal yang wajar. Apalagi jika lapar muncul di siang hari yang menjadi jam-jam kritis. Namun saat dipikirkan, Anda merasa heran kenapa rasa lapar tersebut terus muncul padahal mungkin baru 2 jam yang lalu Anda sahur. Mungkin ada beberapa kebiasaan salah yang Anda lakukan yang membuat Anda selalu lapar.

Dilansir dari healthmeup.com, berikut adalah alasan di balik rasa lapar yang terus menyerang.

Makan terlalu cepat
Ketika Anda makan dengan cepat, maka hormon leptin tidak memiliki waktu untuk bekerja. Padahal hormon ini bermanfaat untuk menjaga agar Anda selalu merasa kenyang. Untuk itulah sangat penting bagi Anda untuk menikmati makanan Anda dengan perlahan saat sahur dan buka.

Kurang tidur
Bila Anda kurang tidur, maka produksi hormon leptin juga akan berkurang. Selain itu kurang tidur juga akan meningkatkan sekresi hormon ghrelin yang membuat Anda selalu merasa lapar.

Malas beraktivitas
Puasa memang membuat tubuh Anda lemas. Namun hal tersebut bukanlah alasan bagi Anda untuk malas beraktivitas. Sebab ternyata menurut beberapa penelitian, sikap bermalas-malasan ini malah membuat Anda menjadi lapar.

Dehidrasi
Saat puasa juga merupakan saat rawan dehidrasi. Dan saat dehidrasi datang Anda akan merasa haus yang kemudian akan Anda kira bahwa Anda lapar. Oleh karena itu selalu usahakan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh Anda saat puasa.

Rasa lapar memang wajar datangnya saat puasa. Namun jika Anda menghindarkan diri dari faktor di atas, maka bisa jadi Anda tidak akan merasa terlalu lapar.

Tugas IBD

4 Hal Yang Sebaiknya Dihindari Saat Marah


marahKetika sedang marah dan emosi berada dalam puncaknya, setiap hal rasanya selalu salah dan menjengkelkan. Para peneliti dan ahli mengatakan ada beberapa hal yang sebaiknya tidak anda lakukan ketika anda sedang dirundung kemarahan. Apa saja itu? Berikut ulasannya..
1. Tidur dalam keadaan marah
Berdasarkan penelitian yang diterbitkan pada Journal of Neuroscience, tidur bisa memperkuat memori atau daya ingat, terutama memori yang berhubungan dengan emosional. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidur bisa membuat emosi negatif dalam diri anda. Allen Towfigh MD, seorang neurolog dan dokter spesialis pengobatan tidur mengungkapkan bahwa tidur bisa membantu memproses serta mengonsolidasikan informasi yang diterima sebelum tidur. Hal ini pada akhirnya mengindikasikan bahwa tidur setelah bertengkar atau sedang dalam keadaan emosi membuat anda akan mengingat kembali dan mengalami emosi yang sama saat anda bangun tidur.
2. Mengemudi
Adalah hal yang berbahaya ketika anda mengemudi kendaraan dalam keadaan sedang marah. Riset mengungkapkan bahwa pengendara yang mengemudi kendaraan dalam kondisi sedang marah lebih berisiko mengalami kecelakaan. Seorang psikolog klinis, David Narang PhD, mengatakan bahwa saat anda sedang marah, anda berisiko terhadap aksi menyerang, oleh sebab itu sebaiknya jangan mengemudi.
Narang juga mengatakan bahwa kemarahan dapat membuat seseorang hanya melihat lurus ke depan saja. Si pengemudi yang sedang marah bisa saja tidak melihat kendaraan lain di sekitarnya atau pejalan kaki. Kondisi ini dinamakan dengan tunnel vision. Apabila anda memang harus mengemudi, sebaiknya membuka mata dengan lebar dan terus fokus agar terhindar dari tunnel vision.
3. Makan
Menurut seorang ahli bernama Kathy Gruver PhD, mengatasi marah dengan makan dapat berdampak buruk. Ia mengatakan bahwa saat kita marah, kita cenderung memilih makan makanan yang tidak sehat.
Gruver menambahkan, jarang sekali orang yang memilih untuk makan sayuran saat ia marah. Sebaliknya, yang sering dipilih biasanya adalah makanan-makanan yang tinggi akan karbohidrat, gula, dan lemak. Selain itu, makan ketika marah menyebabkan sistem pencernaan tidak berfungsi dengan baik, dan ini bisa menyebabkan konstipasi dan diare.
4. “Pamer” kemarahan di media sosial
Dewasa ini, ada kecenderungan oleh sebagian orang ketika mereka sedang marah atau emosinya tidak stabil, mereka ‘mengungkapkannya’ di media sosial. Kebiasaan ‘pamer’ emosi ke media sosial bukanlah kebiasaan yang baik. Narang mengatakan bahwa saat anda sedang marah dan ‘mengumumkan’ perasaan anda ke media sosial, hal tersebut bisa menjadi bumerang yang akan membuat anda menyesal. Mengumumkan atau menuliskan sesuatu ke publik sangat sulit untuk anda tarik kembali. Oleh sebab itu, jika anda sedang dalam kondisi emosi, sebaiknya tidak ‘menumpahkan’ amarah anda ke media sosial.

Tugas IBD

YOUTUBERS

Jovial da lopez sangat mencintai pacarnya yang selalu mentraktirnya, Alexandra (Anggika Bolsterli). Akhirnya JOVIAL ikutan casting film yang disutradarai Hanung bramantyo. Tapi Jovial marah mendapatkan penolakan menyakitkan. Perisiwa memalukan direkam oleh adiknya, Andovi da lopez, lalu menguploadnya di YouTube dan ditonton banyak orang.
Alexandra marah karena harapannya Jovial berguna bagi nusa, bangsa dan negara. Jovial salah megartikannya dengan ikutan demo bayaran ke DPR yang beakhir ricuh. Lagi-lagi kejadian itu diupload Andovi ke YouTube. Respon viewers semakin heboh. Alexandra tambah kesal.
Andovi memanfaatkan Jovial dalam video yang melibatkan pacar Rocky (Ge Pamungkas), juara UFC yang punya channel YouTube tentang fitness. Andovi juga membuat skenario melibatkan Joni Jawahir (Kemal Palevi), yang memiliki subscriber terbanyak di Indonesia. Video Jovial dipukul Joni sangat hits, dan meraih viewers terbanyak. Kembali Andovi sukses bikin sensasi di Youtube, tetapi Jovial yang jadi korban. Tapi mereka jadi terkenal dikalangan YouTubers Indonesia. Pertemuan para YouTubers mengukuhkan eksistensi mereka.
Joni ingin memanfaatkan ketenaran Jovial dan Andovi dengan bergabung membuat video ‘Islah’ video’Islah’ yang ditayangkan di channel Joni sangat booming, karena Jovial mengikuti pesan Alexandra untuk membuat video yang mendidik. Akibatnya lahirlah video yang cupu. Andovi marah ke Jovial, dan hubungan mereka retak. Setelah dinasihati ibunya (Donna Harun), Jovial sadar mereka bisa kembali berdamai dengan membuat video yang tidak baik. Akhirnya Jovial berkolaborasi dengan Joni Jawahir untuk membuat video. Tetapi Joni menipu Jovial dan berkerja sama dengan Rocky dengan membuat video seakan akan Rocky marah karena Jovial merebut pacarnya dan Jovial berduel dengan Rocky dan Jovial pun kalah. Dan juga Jovial putus dengan pacarnya.
Beberapa hari kemudian Rocky sadar bahwa yang dilakukannya salah dan memberikan rekaman video kepada Andovi dan Andovi melihat rekaman tersebut dan membuat sebuah video yang di remix dengan video video yang dia ambil iseng ketika dulu Ka Jo sedang casting film dan beberapa video lainnya yang belum pernah di upload ke YouTube yang menghasilkan sebuah video yang bagus.
Setelah beberapa hari video tersebut Andovi upload dengan tidak sepengetahuan Ka Jo dia mengajak Ka Jo untuk pergi ke cafe karena Andovi melihat Kakanya murung setelah diputusin Alexandra. Awalnya Ka Jo tidak mau tapi dia dipaksa oleh Andovi dan teman temannya. Saat berada di cafe Jovial melihat berita di televisi mengenai Youtubers yang terkenal yaitu adiknya sendiri dan Joni Jawahir. Di berita tersebut Andovi diwawancara karena telah meng-upload sebuah video yaitu video mengenai kakaknya dan Alexandra dan video tersebut diputarkan di televisi. Jovial pun erharu dan berterima kasih kepada Andovi karena sudah membuat video yang bagus mengenai dirinya.
Dan ada satu berita lagi mengenai Joni Jawahir yang ditangkap karena dirinya sering menggunakan barang barang milik bosnya. Dia selama ini mengaku sebagai orang kaya yang memiliki banyak mobil dan ternyata mobil tersebut milik klien bosnya.
Tidak lama kemudian Alexandra datang ke cafe tersebut dia melihat updatetan dari Andovi di Path sedang berada di cafe tersebut dengan Jovial. Dan pada akhirnya Alexandra dan Jovial pun berbaika seperti semula.



CAST
KEMAL PALEVI AS A JONI JAWAHIR
JOVIAL DA LOPEZ AS A JOVIAL DA LOPEZ
ANDOVI DA LOPEZ AS A ANDOVI DA LOPEZ
ANGGIKA BOLSTERLI AS A ALEXANDRA
GE PAMUNGKAS AS A ROCKY
MARLO ERNESTO AS A TEMAN ANDOVI
RAYI PUTRA AS A TEMAN ANDOVI
DONNA HARUN AS A IBU DA LOPEZ BROTHER
DJ YASMIN    AS A PACAR ROCKY
YUNIZA ICHA AS A PACAR JONI JAWAHIR
ADINDA THOMAS AS A PACAR ROCKY
HANUNG BRAMANTYO AS A SUTRADARA/ HANUNG BRAMANTYO
ZASKIA A MECCA AS A ISTRI HANUNG
CESA
DAVID LUCKMANSYAH
FAJAR NUGROS AS A ASISTEN SUTRADARA
RANI RAMADHANY
PANJI PRAGIWAKSONO AS A DOSEN JOVIAL
TYAS MIRASIH AS A MANTAN ANDOVI
ERISKA REIN AS A PACAR ANDOVI
PAMELA BOWIE AS A CEWE SEPERTI TEORI ATOM DI CAFE
AKBAR KOBAR AS YOUTUBERS
SACHA STEVENSON AS A SASHA STEVENSON / YOUTUBERS
NATASHA FARANI AS A NATASHA FARANI / YOUTUBERS
BENAKRIBO AS A BENAKRIBO / YOUTUBERS
EDHO ZELL AS A EDHO ZELL / YOUTUBERS
CHANDRA LIOW AS A CHANDRA LIOW / YOUTUBERS
BAYU SKAK AS A BAYU SKAK / YOUTUBERS
ENO BENING AS A YOUTUBERS
UCOK BABA AS A PENONTON TINJU
AGUNG HERKULES AS A TEMEN ROCKY
ALFI SUGOI AS A PENDEMO
DUO SRIGALA AS A DUO SRIGALA
MARIA GLENNON
REZA SERVIA

SUTRADARA KEMAL PALEVI DAN JOVIAL DA LOPEZ
PRODUSER FIAZ SERVIA, CHAND PARWEZ SERVIA
PENULIS SKENARIO JOVIAL DA LOPEZ DAN KEMAL PALEVI
GENRE FILM COMEDY
RILIS FILM 7MEI 2015
PRODUCTION HOUSE STARVISION
SOUNDTRACK CURIGA DAN HANYA UNTUKMU DARI RAN

PENDAPAT KELOMPOK

FILM INI LUMAYAN BAGUS KARENA DI FILM INI TOKOH UTAMANYA BERSUNGGUH SUNGGUH UNTUK MENJADI TERKENAL DAN ORANG YANG BERGUNA WALAUPUN BANYAK RINTANGANNYA DAN ADA BEBERAPA CARA YANG SALAH TAPI TOKOH TERSEBUT SADAR BAHWA YANG DIA LAKUKAN ITU SALAH DAN BERUSAHA UNTUK BERTINDAK DENGAN BENAR. LALU DI FILM INI BANYAK ANAK-ANAK MUDA YANG BERKREATIF MELALUI MEDIA SOSIAL YAITU YOUTUBE, MEREKA BERKREASI SEPERTI MENG-UPLOAD VIDEO BERNYANYI DAN MEMAINKAN ALAT MUSIK, MEMBUAT VIDEO MENGENAI TIPS - TIPS, MEMASAK, MEMBUAT VIDEO - VIDEO LUCU, DAN SEBAGAINYA.
TETAPI DI DALAM FILM INI ADA BEBERAPA KEKURANGANNYA SEPERTI BAJU YANG DIKENAKAN TIDAK SOPAN DAN ADA BEBERAPA KATA YANG KURANG BAGUS UNTUK DIUCAPKAN.

Sabtu, 10 Januari 2015

tugas akhir MKDU Ilmu Sosial Dasar "Agama dan Masyarakat"


Pokok bahasan
Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan maut menimbulkan relegi dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agama para tasauf.

Bukti-bukti itu sampai pada pendapat bahwa agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Agama yang diyakini, merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya, dan kembali pada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial dan invidu dengan masyarakat yang seharusnya tidak bersifat antagonis.

Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal-hal yang normative atau menunjuk kepada hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan.

Contoh kasus akibat tidak terlembaganya agama adalah “anomi”, yaitu keadaan disorganisasi sosial di mana bentuk sosial dan kultur yang mapan jadi ambruk. Hal ini, pertama, disebabkan oleh hilangnya solidaritas apabila kelompok lama di mana individu merasa aman dan responsive dengan kelompoknya menjadi hilang. Kedua, karena hilangnya consensus atau tumbangnya persetujuan terhadap nilai-nilai dan norma yang bersumber dari agama yang telah memberikan arah dan makna bagi kehidupan kelompok.


1.1.  Fungsi Agama

Ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari dalam mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. Ketiga aspek itu merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan sejauh mana fungsi lembaga agama memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan adalah suatu sistem, atau sejauh mana agama dapat mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya. Pertanyaan tersebut timbul karena sejak dulu hingga sekarang, agama masih ada dan mempunyai fungsi, bahkan memerankan sejumlah fungsi.

Manusia yang berbudaya, menganut berbagai nilai, gagasan, dan orientasi yang terpola mempengaruhi perilaku, bertindak dalam konteks terlembaga dalam lembaga situasi di mana peranan dipaksa oleh sanksi positif dan negatif serta penolakan penampilan, tapi yang bertindak, berpikir dan merasa adalah individu itu sendiri.

Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial agama terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, sampai konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan dasar yang dapat dipenuhi oleh nilai-nilai duniawi, tapi tidak menguntik hakikat apa yang ada di luar atau referensi transdental.

Aksioma teori di atas adalah, segala sesuatu yang tidak berfungsi akan hilang dengan sendirinya. Teori tersebut juga memandang kebutuhan “sesuatu yang mentransendensikan pengalaman” sebagai dasar dari karakteristik eksistensi manusia. Hali itu meliputi, Pertama, manusia hidup dalam kondisi ketidakpastian juga hal penting bagi keamanan dan kesejahteraannnya berada di luar jangkauan manusia itu sendiri. Kedua, kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan mempengaruhi kondisi hidupnya adalah terbatas, dan pada titik tertentu akan timbul konflik antara kondisi lingkungan dan keinginan yang ditandai oleh ketidakberdayaan. Ketiga, manusia harus hidup bermasyarakat di mana ada alokasi yang teratur dari berbagai fungsi, fasilitas, dan ganjaran.

Jadi, seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan; dan agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.

Fungsi agama terhadap pemeliharaan masyarakat ialah memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat. Contohnya adalaha sistem kredit dalam masalah ekonomi, di mana sirkulasi sumber kebudayaan suatu sistem ekonomi bergantung pada kepercayaan yang terjalin antar manusia, bahwa mereka akan memenuhi kewajiban bersama dengan jenji sosial mereka untuk membayar. Dalam hal ini, agama membantu mendorong terciptanya persetujuan dan kewajiban sosial dan memberikan kekuatan memaksa, memperkuat, atau mempengaruhi adat-istiadat.

Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka norma pun dikukuhkan dengan sanksi sakral. Sanski sakral itu mempunyai kekuatan memaksa istimewa karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi, supramanusiawi, dan ukhrowi.

Fungsi agama di sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama baik antara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang mempersatukan mereka.

Fungsi agama sebagai sosialisasi individu adalah, saat individu tumbuh dewasa, maka dia akan membutuhkan suatu sistem nilai sebagai tuntunan umum untuk mengarahkan aktifitasnya dalam masyarakat. Agama juga berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua tidak akan mengabaikan upaya “moralisasi” anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut harus beribadah secara teratur dan kontinu.

Masalah fungsionalisme agama dapat dianalisis lebih mudah pada komitmen agama. Menurut Roland Robertson (1984), dimensi komitmen agama diklasifikasikan menjadi :

a.Dimensi keyakinan mengandug perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran tertentu.

b.Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secra nyata. Ini menyangkut hal yang berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, perbuatan mulia, berbakti tidak bersifat formal, tidak bersifat publik dan relatif spontan.

c.Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan dengan suatu perantara yang supernatural meskipun dalam waktu yang singkat.

d.Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.

e.Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki konsekuensi paling penting bagi agama. Akibatnya adalah masyarakat makin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalh kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas dan sering kali dengan pengorbanan lingkungan yang sakral. Menurut Roland Robertson, watak masyarakat sekular tidak terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya, sediktnya peranan dalam pemikiran agama, praktek agama, dan kebiasaan-kebiasaan agama.

Umumnya, Kecenderungan sekularisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan-kepercayaan dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang terbatas pada aspek yang lebih kecil dan bersifat khusus dalam kehidupan masyarakat dan anggota-anggotanya.

Hal itu menimbulkan pertanyaan apakahan masyarakat sekuler mampu mempertahankan ketertiban umum secara efektif tanpa adanya kekerasan institusional apabila pengaruh agama sudah berkurang.


 1.2. Pelembagaan Agama

Agama sangat universal, permanen, dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak memahami agama, maka akan sulit memahami masyarakat. Hal yang harus diketahui dalam memahami lembaga agama adalah apa dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi dan struktur dari agama.

Dimensi ini mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh kepercayaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi-dimensi ini dapat diterima sebagai dalil atau dasar analitis, tapi hubungan antara empat dimensi itu tidak dapat diungkapkan tanpa data empiris.

Menurut Elizabeth K. Nottingham (1954), kaitan agama dalam masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan keseluruhannya secara utuh.

a.Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-nilai Sakral
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Sebab itu, keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya:
Agama memasukkan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem masyarakat secara mutlak.
Nilai agama sering meningkatkan konservatisme dan menghalangi perubahan dalam masyarakat dan agama menjadi fokus utama pengintegrasian dan persatuan masyarakat secra keseluruhan yang berasal dari keluarga yang belum berkembang.

b.Mayarakat-masyarakat Praindustri yang Sedang Berkembang
Masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi. Agama memberi arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap masyarakat, pada saat yang sama, lingkungan yang sakral dan yang sekular masih dapat dibedakan. Fase kehidupan sosial diisi dengan upacara-upacara tertentu. Di pihak lain, agama tidak memberikan dukungan sempurna terhadap aktivitas sehari-hari, agama hanya memberikan dukungan terhadap adat-istiadat.

Pendekatan rasional terhadap agama dengan penjelasan ilmiah biasanya akan mengacu dan berpedoman pada tingkah laku yang sifatnya ekonomis dan teknologis dan tentu akan kurang baik. Karena adlam tingkah laku, tentu unsur rasional akan lebih banyak, dan bila dikaitkan dengan agama yang melibatkan unsur-unsur pengetahuan di luar jangkauan manusia (transdental), seperangkat symbol dan keyakinan yang kuat, dan hal ini adalah keliru. Karena justru sebenarnya, tingkah laku agama yang sifatnya tidak rasional memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Agama melalui wahyu atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat di dunia dan akhirat. Dalam perjuangannya, tentu tidak boleh lalai. Untuk kepentingan tersebut, perlu jaminan yang memberikan rasa aman bagi pemeluknya. Maka agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama menjadi salah satu aspek kehiduapan semua kelompok sosial, merupakan fenomena yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja, yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.

Adanya organisasi keagamaan, akan meningkatkan pembagian kerja dan spesifikasi fungsi,juga memberikan kesempatan untuk memuaskankebutuhan ekspresif dan adatif.

Pengalaman tokoh agama yang merupakan pengalaman kharismatik, akan melahirkan suatu bentuk perkumpulan keagamaan yang akan menjadi organisasi keagamaan terlembaga. Pengunduran diri atau kematian figure kharismatik akan melahirkan krisis kesinambungan. Analisis yang perlu adalah mencoba memasukkan struktur dan pengalaman agama, sebab pengalaman agama, apabila dibicarakan, akan terbatas pada orang yang mengalaminya. Hal yang penting untuk dipelajari adalah memahami “wahyu” atau kitab suci, sebab lembaga keagamaan itu sendiri merupakan refleksi dari pengalaman ajaran wahyunya.

Lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan, dan tampil pula sebagai asosiasi atau organisasi. Misalnya pada kewajiban ibadah haji dan munculnya organisasi keagamaan.

Lembaga ibadah haji dimulai dari terlibatnya berbagai peristiwa. Ada nama-nama penting seperti Adam a.s, Ibrahim a.s, Siti Hajar, dan juga syetan; tempatnya adalah Masjidil-Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar, Mina, serta Ka’bah yang merupakan symbol penting; ada peristiwa kurban, pakaian ihram, tawaf, sa’I, dan sebagainya.

Adam dan Hawa dalam keadaan terpisah, kemudian keduanya berdoa : “Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S al-A’raf : 23).

Setelah itu Allah SWT memerintahkan Adam untuk ibadah haji (pergi ke sesuatu untuk mengunjunginya). Saat sampai di suatu tempat (Arafah= tahu, kenal), maka bertemulah ia dengan Hawa setelah diusir dari surge. Sebab itu dalam pelaksanaan ibadah haji, ada ketentuan wukuf (singgah).

Nama nabi Ibrahim a.s selalu dikaitkan dengan Ka’bah sebagai pusat rohani agama Islam (Kiblatnya Islam). Pada suatu peristiwa Allah memerintahkan Jibril membawa Ibrahim a.s, Siti Hajar dan Ismail a.s putranya yang masih kecil ke Makkah dari Palestina. Di suatu tempat, Ibrahim a.s atas perintah Allah SWT supaya meninggalkan istri dan putranya. Kemudian Ismail menangis meminta air, tentu saja Siti Hajar menjadi khawatir dan gelisah, maka ia pun berlari mencari air ke bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

Setelah itu dengan kuasa Tuhan, memancarlah air dari dekat kaki Ismail (sekarang sumur air Zam-zam). Sebab itu, dalam rukun Haji ada Sa’I (berlari kecil) sebanyak tujuh kali di bukit Shafa dan Marwa. Siti Hajar merupak lambang yang bertanggung jawab, tidak pasrah, perjuangan fisik dan meniadakan diri tenggelam ke dalam samudera cinta.

Kurban dikaitkan resmi dengan ibadah haji. Lembaga ini berhubungan dengan sejarah rohani Ibrahim a.s yang diperintahkan oleh Alla SWT untuk menyembelih putranya Ismail a.s, untuk menguji kesempurnaan tauhidnya. Sewaktu penyembelihan akan dilaksanakan, syetan sempat menggoda Ibrahim a.s agar tidak melaksanakan perintah Allah tersebut. Kemudian Ibrahim dan Ismail melemparkan batu ke arah suara syetan itu berasal. Untuk mengenang peristiwa itu, dalam pelaksanaan ibadah haji diwajibkan melempar jumrah (batu).

Sewaktu Ismail akan disembelih oleh Ibrahim a.s, ternyta Allah menggantinya dengan seekor gibas (domba) jantan. Firman Allah : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan pergi kesana. Barang siapa yang kafir (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah Mahakuasa (tidak memerlukan sesuatu dari alam semesta)” (Q.S 3:97).

Jadi, kewajiban tersebut, esensinya adalah evolusi manusia menuju Allah dengan pengalaman agama yang penting. Mengandung simbolis dari filsafat “pencptaan Adam”, “sejarah”, “keesaan”, “ideology islam”, dan “ummah”.
Organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus, bermula dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi keagamaan yang terlembaga.
Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial Islam yang dipelopori oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad Abduh dari Tafsir Al-Manar. Ayat suci Al-Quran telah memberi inspirasi kepada Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah. Salah satu mottonya adalah, Muhammadiyah diapandang sebagai “segolongan dari kaum” mengajak pada kebaikan dan mencegah perbuatan jahat (amar ma’ruf, nahi ’anil munkar)
Dari contoh sosial di atas, lembaga keagamaan berkembang sebagai pola ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Pelembagaan agama puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat pemujaan (ibadat), dan tingkat organisasi.
Tampilnya organisasi agama adalah akibat adanya “perubahan batin” atau kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan


       1.3     Agama, Konflik, Masyarakat

Secara sosiologis, Masyarakat agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar-tawar, apalagi berganti. Ia mengibaratkan agama bukan sebagai (seperti) rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya. Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara objektif dalam soal keagamaan, karena manusia dalam keadaan involved (terlibat). Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia involved (terlibat) dengan Islam. Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, bermacam-macam agama. Hal ini adalah realitas, karena itu mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri, dengan mengakui adanya religious pluralism dalam masyarakat Indonesia.
Banyak konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia disebabkan oleh pertikaian karena agama. Contohnya tekanan terhadap kaum minoritas (kelompok agama tertentu yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah) memicu tindakan kekerasan yang bahkan dianggap melanggar Hak Asasi Manusia. Selain itu, tindakan kekerasan juga terjadi kepada perempuan, dengan menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dianggap dapat merusak moral masyarakat. Kemudian juga terjadi kasus-kasus perusakan tempat ibadah atau demonstrasi menentang didirikannya sebuah rumah ibadah di beberapa tempat di Indonesia, yang mana tempat itu lebih didominasi oleh kelompok agama tertentu sehingga kelompok agama minoritas tidak mendapatkan hak.

Permasalah konflik dan tindakan kekerasan ini kemudian mengarah kepada pertanyaan mengenai kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam UUD 1945, pasal 29 Ayat 2, sudah jelas dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memeluk agama dan akan mendapat perlindungan dari negara.

Pada awal era Reformasi, lahir kebijakan nasional yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia. Namun secara perlahan politik hukum kebijakan keagamaan di negeri ini mulai bergeser kepada ketentuan yang secara langsung membatasi kebebasan beragama. Kondisi ini kemudian menyebabkan terulangnya kondisi yang mendorong menguatnya pemanfaatan kebijakan-kebijakan keagamaan pada masa lampau yag secara substansial bertentangan dengan pasal HAM dan konstitusi di Indonesia.

Hal ini lah yang dilihat sebagai masalah dalam makalah ini, yaitu tentang konflik antar agama yang menyebabkan tindakan kekerasan terhadap kaum minoritas dan mengenai kebebasan memeluk agama dan beribadah dalam konteks relasi sosial antar agama. Penyusun mencoba memberikan analisa untuk menjawab masalah ini dilihat dari sudut pandang kerangka analisis sosiologis: teori konflik.

Konflik yang ada dalam Agama dan Masyarakat

Di beberapa wilayah, integritas masyarakat masih tertata dengan kokoh. Kerjasama dan toleransi antar agama terjalin dengan baik, didasarkan kepada rasa solidaritas, persaudaraan, kemanusiaan, kekeluargaan dan kebangsaan. Namun hal ini hanya sebagian kecil saja karena pada kenyataannya masih banyak terjadi konflik yang disebabkan berbagai faktor yang kemudian menyebabkan disintegrasi dalam masyarakat.

Banyak konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia disebabkan oleh pertikaian karena agama. Contohnya tekanan terhadap kaum minoritas (kelompok agama tertentu yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah) memicu tindakan kekerasan yang bahkan dianggap melanggar Hak Asasi Manusia. Selain itu, tindakan kekerasan juga terjadi kepada perempuan, dengan menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dianggap dapat merusak moral masyarakat. Kemudian juga terjadi kasus-kasus perusakan tempat ibadah atau demonstrasi menentang didirikannya sebuah rumah ibadah di beberapa tempat di Indonesia, yang mana tempat itu lebih didominasi oleh kelompok agama tertentu sehingga kelompok agama minoritas tidak mendapatkan hak.

Permasalah konflik dan tindakan kekerasan ini kemudian mengarah kepada pertanyaan mengenai kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam UUD 1945, pasal 29 Ayat 2, sudah jelas dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memeluk agama dan akan mendapat perlindungan dari negara.

Pada awal era Reformasi, lahir kebijakan nasional yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia. Namun secara perlahan politik hukum kebijakan keagamaan di negeri ini mulai bergeser kepada ketentuan yang secara langsung membatasi kebebasan beragama. Kondisi ini kemudian menyebabkan terulangnya kondisi yang mendorong menguatnya pemanfaatan kebijakan-kebijakan keagamaan pada masa lampau yag secara substansial bertentangan dengan pasal HAM dan konstitusi di Indonesia.
Hal ini lah yang dilihat sebagai masalah dalam makalah ini, yaitu tentang konflik antar agama yang menyebabkan tindakan kekerasan terhadap kaum minoritas dan mengenai kebebasan memeluk agama dan beribadah dalam konteks relasi sosial antar agama. Penyusun mencoba memberikan analisa untuk menjawab masalah ini dilihat dari sudut pandang kerangka analisis sosiologis: teori konflik.


Definisi :

 Agama dalam masyarakat bersangkut paut sangat erat dan dekat, karna agama adalah salah satu pegangan/pondasi jalan hidup bagi umat pemeluk dan pemercayanya. Agama pun sangat berfungsi bagi masyarakat untuk mengatur kehidupan, contoh agama ISLAM.
Agama ISLAM mempunyai kitab suci yaitu AL-QUR'AN. Didalamnya terdapat anjuran-anjuran dan sifat-sifat baik untuk kehidupan manusia, itu semua pasti benar dan tidak satupun ada yang salah pada dalam isi AL-QUR'AN. Sedangkan manusia, pasti membutuhkan agama yg dia percayai.
Karna kepercayaan kepada agama tersebutlah manusia dapat memperoleh anutan/kepercayaan untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Semua agama pun pasti terdapat isi yang menjelaskan bahwa didunia ini kita "MANUSIA'' harus hidup saling rukun,damai, dan sejahtera. Itu semua diatur oleh Tuhan YME agar umat manusia dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain walalupun berbeda-beda agama,ras,suku budaya,bahasa maupun warna kulit.

Sekian terimakasih.



SUMBER : karinarisaf.blogspot
                    nathaniaseptavy.wordpress











Pengalaman Positif saya yang dengan bertemakan “Agama dan Masyarakat” adalah :
Pada saat Bulan Suci Ramadhan berakhir dan tibalah perayaan Hari Raya IDUL FITRI. Kami sebagai umat muslim merayakannya dengan penuh rasa bahagia karna dapat merasakan kembali suasana Bulan Suci Ramadhan dan IDUL FITRI yang penuh makna. Tetapi dilingkungan rumah saya dan disekitarnya tidak hanya umat muslim yang merayakan Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya IDUL FITRI tersebut, bahkan umat non muslim yang saya beri contoh yaitu Kristen prostestan dan khatolik. Mereka juga ikut merayakan hari kebesaran umat muslim dengan cara yang tidak sama atau berbeda dengan umat muslim, umat muslim merayakan Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya IDUL FITRI dengan apa yang sudah dianjurkan Nabi Muhammad SAW dan sudah tercantum didalam kitab suci AL-QUR’AN. Sedangkan umat non muslim mereka ikut merayakan Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya IDUL FITRI dengan cara menghargai para umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan dengan tidak berbuat semaunya yang dapat membatalkan ibadah puasa para umat muslim. Pada saat Hari Raya IDUL FITRI umat non muslim juga tidak berdiam diri begitu saja, mereka mendatangi sebagian rumah para warga umat muslim untuk memberikan dan menyatakan “Selamat Hari Raya IDUL FITRI’’, tidak kurang dengan doa mereka semoga berkah dan bahagia selalu”.
Begitu pula dengan perayaan Natal yaitu hari kebesaran umat Kristiani, kami sebagai umat muslim yang sangat menjunjung tinggi rasa saling menghormati mendatangi sebagian rumah para warga Kristiani untuk memberikan dan menyatakan “Selamat Natal” dan kami juga mendoakan segala yang terbaik untuk kita semua. Sekian dari pengalaman positif saya tentang “Agama dan Masyarakat”


Pengalaman Positif tambahan :

1.   Mengadakan pengajian rutin tiap-tiap sektor
2. Mengadakan kerja bakti rutin setiap hari Minggu
3. Mengikuti aktifitas yang diselenggarakan pemuda masjid
4. Ikut serta dalam menjaga segala kepentingan beragama